Langsung ke konten utama

 

Antara Banjar, Mandar dan Bahasa Indonesia

 

Tanjung lalak, kec.pulau laut kepulauan, kab.kotabaru

Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas dan dihuni banyak orang. Di negeri tercinta ini kita banyak memiliki keberagam  budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahasa. Dari setiap budaya yang berbeda meski memiliki Bahasa yang berbeda pula dan bahasa Indonesialah yang menyatukan kita.

 

Dari budaya yang berbeda ada orang berbicara dengan nada tinggi. Ada pula  orang yang berbicara dengan nada lembut. Tentunya berbeda sesuai dengan keberagaman di Indonesia. Bagi kita yang belum terbiasa dengan keberagaman budaya yang kita rasakan, mungkin kita merasa aneh dan tidak nyaman dengan perbedaan itu.

 

Saya sendiri pernah mengalami culture shcok ketika saya mengikuti perlombaan MFQ dibeberapa kecamatan di kotabaru Kalimantan selatan. Karena saya yang terbiasa menggunakan Bahasa banjar dan logat banjar yang biasa-biasa saja ketika saya pergi ke tanjung lalak kecamatan pulau laut kepulauan tepatnya saya sangat kaget ketika disana. Pada awalnya saya kira orang-orang disana ketika berbicara sama saja dengan orang banjar. Namun persepsi saya ketika disana langsung hangus. Orang-orang disana terbiasa berbicara dengan nada tinggi dan juga tidak banyak yang mengerti Bahasa banjar, karena disana kebanyakan suku mandar dan dominan pendatang dari makassar.

 

Tidak hanya soal nada bicara yang membuat saya mengalami culture shcok, tetapi juga rumah-rumah disana yang masih banyak terdapat rumah tradisional suku mandar. Sebelumnya desa tanjung lalak ini merupakan pulau yang hampir terujung di kotabaru tempatnya itu sangat dekat dengan laut lepas yaitu selat Makassar yang mana ombaknya sangat besar. Tidak hanya itu hal tak terduga lainnya yang banyak diperbincangkan orang tentang saranjana ternyata itu terletak dekat sekali dengan desa tanjung lalak. Sekedar pengalaman yang menakutkan ketika berjalan-jalan di Desa Tanjung Lalak saya dan teman-teman hampir tersesat kejalan menuju saranjana karena keteledoran kami yang memisahkan diri dari rombongan khafilah, memang kata warga setempat itu memang ada dan pemandangan disana itu sangat bagus sekali.

 

 

Bahasa Indonesia Bahasa Pemersatu

Mayoritas etnis di Kalimantan Selatan memang didominasi oleh suku banjar, jadi tidak jarang orang dari suku lain juga bisa dan paham berbahasa banjar. Namun itu susah kita dapati jika berada di Desa Tanjung Lalak. Memang letaknya dikotabaru Kalimantan selatan, tetapi penduduk disana kebanyakan berasal dari makassar dan bukan penduduk asli Kotabaru sehingga tidak banyak yang bisa dan mengerti Bahasa Banjar.

 

Ketika saya mengikuti perlombaan MFQ disana setiap harinya selalu dikagetkan dengan orang-orang Desa Tanjung Lalak. Mereka sangat ramah terhadap orang baru tetapi ketika mereka berbicara dengan sesama mereka saya yang mendengar merasa seakan-akan ada dua orang yang bertengkar dihadapan saya. It’s so crazy. Baru tiga hari disana saya merasa terbawa nada bicara mereka ketika saya berbicara dengan teman-teman ditambah lagi saya yang suka ngegas saat berbicara. Perpaduan yang sangat mantap sekali.

 

Suatu ketika saya berkenalan dengan teman baru disana saya berbicara menggunakan Bahasa banjar karena saya kita mereka faham dan mengerti, dengan panjang lebarnya saya berbicara namun hanya sia-sia dia tidak mengerti Bahasa Banjar sedikitpun. Ketika dirumah khafilah saya dijelaskan oleh orang asli sana, barulah saya mengerti bahwa orang disana tidak banyak yang mengerti dan bisa berbahasa Banjar kecuali mereka bersekolah atau kuliah dikota yang bisa berbahasa Banjar.

 

Hal lucu yang saya ingat ketika kami menonton perlombaan saya dan teman-teman berbicara Bahasa banjar, teman baru saya berbicara Bahasa mandar dengan teman-temannya, namun ketika kami ingin berbicara terpaksa kami menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi satu sama lain. Dari sinilah pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya.

 

 

Bagi kita masyarakat banjar ketika berbelanja diwarung “acil nukar/ acil nungkar” tetapi jika masyarakat tanjung lalak “acil meli/acil belií”. Saya sempat bingung mengapa masyarakat disana mengenal kata “acil” padahal itu kata yang biasa digunakan oleh masyarakat banjar rupanya karena pedagang disana kebanyakan dari orang kota jadi mengenallah kata “acil” oleh masyarakat tanjung lalak.

 

Berbicara tentang pengalaman saya lainnya ketika disana, antara kagum dan bingung dengan rumah disana karena rumahnya tinggi-tinggi seperti kebanyakan rumah bugis pada umumnya yang pernah saya lihat ditv dan sekarang saya melihatnya secara langsung. Pondasi rumahnya tidak melekat dalam tanah dan hanya seperti berada diatas tanah saja. Dibawah rumah itu banyak digunakan orang sana untuk berdagang, tempat penyimpanan ikan kering, dan juga tempat santai. Saya selalu terkagum-kagum ketika berada disana.

 

Itulah sepenggal pengalaman yang saya rasakan ketika mengalami culture shock ketika berada ditempat yang sangat jauh dari circle banjar yang selalu saya rasakan.

 

Keberagaman budaya dan juga Bahasa memang sangat banyak di Indonesia. Meskipun berbeda-beda namun kita tetap satu. Meskipun berbeda Bahasa jua tetaplah Bahasa Indonesia yang menjadi pemersatu kita.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Love yourself

Hello guys, welcome back Niisaarham blog 😍..... On this occasion, I want to talk about "why love yourself?" Today there are so many people who follow trends, whether it's from social media, fashion, language, and so on. many people follow world standards in order to be seen as more than the people around us and thus make us lose our identity because we follow the standards set by the world. If we follow the world's standards, we can't. because it is absolutely impossible to do.  We must learn to love ourselves. How to make you happy, how to make yourself comfortable, and most importantly how to be yourself. if we can love ourselves, we will always be grateful for what is in us. Maybe for some people very difficult, and maybe for some people very easily. Why? because everyone has a different process about themselves. BTS is my encouragement, from them I learned to love myself and be myself. we don't need to follow what other people say about us because yes we ...

About Learn Grammar

 hallo guys.... Welcome to Niisaarham's blog,  It's been quite a while since my last post. Now I will tell you about how I learned grammar and how effective it is based on my own experience. Of course, learning grammar is quite difficult because of the difference between Indonesian grammar and English grammar and has special rules and makes it difficult for us to learn the grammar. I have been excited about learning English grammar. That is because I feel there is a demand to be able to understand and use English well. I feel bored being an ordinary person in using this one language, there is a desire to become The Great User of English Language (meaning smart in speaking English), a wish that is quite late. Even though before, we have been required to be able to speak English, either at school or on campus, but it feels like it's not finished yet, there are some readings that I can't understand the meaning of, the most obvious parameter is that when watching Hollywood ...

Experience Taking the Toefl Test

Hallo hallo halloo Welcome to Niisaarham's blog, according to the title I will share my experiences about the TOEFL test that I have taken. Actually, I want to write a blog about my other experiences as well, but because of some busyness, now we are talking about my previous experience. Hehee I usually take the TOEFL test once a year when I enter the odd semester in my major. I have taken this TOEFL test twice, the first was when I entered the beginning of lectures or during the 1st semester and the second time was when I entered the 3rd semester. Maybe you can already feel how it was when you took the test those few times. This second TOEFL test was different from before because it was carried out online by my department because of this covid pandemic and at that time college was already online. When I took the second test, I still remember why I was so stupid that I almost forgot to take the test because I was too busy with my college assignments. if only I had not taken the test...